Gingsul

09.13 Al Aziz Rizqi Muharram 0 Comments

Ini pukul 12.15 siang, jam dimana orang rajin mengistirahatkan segala aktivitasnya yang bersentuhan dengan terik matahari. Di kursi panjang yang menohok ini  Mara sedang kehausan dan berkeringat, sebab tadi matahari sedang mengangah diatas kepalanya, mungkin seprempat menit saja dirasa cukup untuk mengelap keringat di sekujur keningnya yang enggan mengering sedari tadi.  Sedangkan di bilik dalam sana ada yang menjingga mengaduk-aduk ramuannya, entah secangkir kopi, segelas es teh atau semangkuk bubur kacang yang ijo, tunggu sajalah apa yang di bawanya keluar.

Dengan cukup menunggu beberapa menit saja Mara menyantap habis sejenis goreng-gorengan dan segelas es teh yang sudah diramu -olehnya- dan tersaji di pangkuannya, lalu menepu-nepuk perutnya yang limbung, buah tanda kepuasan pribadinya, sedang matanya melompat sana-sini  lamat memperhatikan seraut wajah itu, menyeret semua indra bak lampu sorot yang tertuju kepada sesuatu disana. 

Mara, yang semula kehausan, kepanasan tidak karuan kini ia sibuk menundukkan kepala, matanya terbenam malu enggan menengok saban perempuan itu mondar-mandir menenteng keluar gelas-gelas serta cangkir kopi, lagi pula ia hanya cuek saja.

Perempuan itu: wajahnya capek, menggunakan kaos cokelat panjang, celana jeans yang sedikit robek di lututnya, sendalnya jepit, bola matanya tampak samar, rambutnya di ikat begitu saja sedikit terurai didepannya, senyumnya sempit sedikit menampakkan -gigi yang gingsul- itu, seakan ia menyimpulkan menjauh dari kecantikan. 


"Oh iya, ia gemar bersembunyi di balik bibir yang tak pernah berwarna merah itu, seakan selalu ingin  menarik-narik penglihatan, menyilaukan mata. Seakan ia berbisik, lirih sekali yang ingin menyampaikan pesan seperti sajak-sajak Sapardi yang di pentaskan dipanggung gembira para sastrawan. 
Jangan tersenyum sempit terlebih sarkastik ".  

-Gingsul




0 komentar:

Pentingnya Merawat, Ingatan dan Apapun.

12.58 Al Aziz Rizqi Muharram 0 Comments

Sedkit mundur kebelakang kira-kira ditahun 2005 sampai di 2008 kalo gk salah, lupa banget pasnya kapan. Waktu itu sedang ramai-ramainya mainan di internet -Friendster dan Facebook- (belum ngerti istilah social media) namun Friendster lah yang paling menawan kala itu. Sebuah kanal yang begitu akrab digunakan generasi '90 an akhir, beragam alasan orang memakai saluran ini, mulai dari berkirim kabar untuk teman, mengetahui informasi terkini seputar musik misalnya, berita-berita yang sedang hangat dibicarakan bahkan. Para penggunanya dapat mengirim foto serta video, dan yang paling terkesan adalah bisa menulis testimoni di dinding halaman Friendster milik kita, enggak tau kenapa kalau di ingat hal itu seakan jadi kebanggan saja, walau sesaat.

Friendster hari ini lenyap digulung angin, rasanya masih seru saja kalau di detik ini masih main di FS, FS adalah akronim yang sangat popular kala itu untuk para penggunanya. Jadi kebayang kan berjam-jam duduk manis di warnet demi main FS, sambil nengokin mbak-mbak warnet yang gingsulnya kanan kiri, pipinya jeglong (lesung pipit), lalu ngunggahin foto dan video, menulis komentar di kolom teman, mempercantik template kalo dikunjungin pacar biyar betah.

Namun, di medio itu belum ngerti betapa pentingnya merawat sebuah username dan password, bahkan sekedar untuk di ingat saja, kalau ingetanmu tidak hebat-hebat amat mending buat password satu saja seumur hidup untuk semua keperluan pengamanan privasi dan social mediamu. Kalau boleh meminjam tulisan mas Zen tentang pentingnya merawat sebuah ingatan, kira-kira begini bunyinya:


“Dan di hadapan kekuasaan, hal paling mudah yang mesti dilakukan, adalah merawat baik-baik ingatan.” - Zen RS
Bukan perkara siapa yang sedang berkuasa, atau kekuasaan milik siapa? Dibalik itu, pesan yang disampaikan beliau tentang penting nya merawat sebuah ingatan memang benar harus dujaga baik-baik.

Sekian.

0 komentar: