Gingsul
Ini pukul 12.15 siang, jam dimana orang rajin
mengistirahatkan segala aktivitasnya yang bersentuhan dengan terik matahari. Di
kursi panjang yang menohok ini Mara sedang kehausan dan berkeringat,
sebab tadi matahari sedang mengangah diatas kepalanya, mungkin seprempat menit
saja dirasa cukup untuk mengelap keringat di sekujur keningnya yang enggan
mengering sedari tadi. Sedangkan di bilik dalam sana ada yang menjingga
mengaduk-aduk ramuannya, entah secangkir kopi, segelas es teh atau semangkuk
bubur kacang yang ijo, tunggu sajalah apa yang di bawanya keluar.
Dengan cukup menunggu beberapa menit saja Mara menyantap habis sejenis goreng-gorengan dan segelas es teh yang sudah diramu -olehnya- dan tersaji di pangkuannya, lalu menepu-nepuk perutnya yang limbung, buah tanda kepuasan pribadinya, sedang matanya melompat sana-sini lamat memperhatikan seraut wajah itu, menyeret semua indra bak lampu sorot yang tertuju kepada sesuatu disana.
Mara, yang semula kehausan, kepanasan tidak karuan kini ia sibuk menundukkan kepala, matanya terbenam malu enggan menengok saban perempuan itu mondar-mandir menenteng keluar gelas-gelas serta cangkir kopi, lagi pula ia hanya cuek saja.
Perempuan itu: wajahnya capek, menggunakan kaos cokelat panjang, celana jeans yang sedikit robek di lututnya, sendalnya jepit, bola matanya tampak samar, rambutnya di ikat begitu saja sedikit terurai didepannya, senyumnya sempit sedikit menampakkan -gigi yang gingsul- itu, seakan ia menyimpulkan menjauh dari kecantikan.
"Oh iya, ia gemar bersembunyi di balik bibir yang tak
pernah berwarna merah itu, seakan selalu ingin menarik-narik penglihatan,
menyilaukan mata. Seakan ia berbisik, lirih sekali yang ingin menyampaikan
pesan seperti sajak-sajak Sapardi yang di pentaskan dipanggung gembira para
sastrawan.
Jangan tersenyum sempit terlebih sarkastik ".
Jangan tersenyum sempit terlebih sarkastik ".
-Gingsul


0 komentar: